
Bali selalu identik dengan pantai, pura, dan sawah berundak. Tapi ada satu hal yang sering terlewat begitu saja saat liburan: minuman lokalnya. Padahal, dari warung pinggir jalan sampai kedai kopi di Ubud, Bali punya deretan minuman tradisional yang rasanya jauh dari kata biasa. Beberapa di antaranya bahkan sudah jadi bagian dari ritual adat sebelum akhirnya dikenal luas oleh wisatawan.
Kalau kamu sedang merencanakan perjalanan ke Bali, atau sekadar penasaran dengan budaya minumnya, berikut delapan pilihan yang layak masuk daftar coba.
1. Es Daluman, Cendol Versi Bali
Sekilas mirip cendol pada umumnya, tapi Es Daluman punya karakter yang berbeda. Warna hijaunya berasal dari daun cincau khas Bali yang direbus dan disaring, bukan dari tepung hunkwe seperti cendol Jawa. Teksturnya lebih lembut, hampir meleleh di mulut, dicampur santan dan gula aren cair. Di beberapa pasar tradisional seperti Pasar Badung, kamu masih bisa menemukan penjual yang membuatnya dari nol setiap pagi.
2. Loloh Cemcem, Jamu Ala Penglipuran
Ini bukan minuman untuk semua orang, tapi wajib dicoba setidaknya sekali. Loloh Cemcem berasal dari Desa Penglipuran dan dibuat dari daun cemcem yang ditumbuk, dicampur air kelapa muda, gula merah, dan sedikit garam. Rasanya asam-segar dengan sedikit rasa pahit di ujung tegukan. Warga setempat percaya minuman ini baik untuk pencernaan, dan sampai sekarang masih diminum sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar suguhan wisata.
3. Kopi Kintamani, dari Dataran Tinggi Bali
Ditanam di lereng Gunung Batur pada ketinggian sekitar 900-1.500 meter di atas permukaan laut, kopi Kintamani punya keasaman yang khas karena pengaruh tanah vulkanik dan pola tanam tumpang sari dengan pohon jeruk. Banyak petani di kawasan ini masih memproses biji kopinya secara manual, dari penjemuran sampai penyangraian dengan wajan tanah liat. Kalau berkunjung ke kawasan Kintamani, coba minta versi yang diseduh tanpa gula dulu sebelum menilai rasanya.
4. Air Kelapa Muda Langsung dari Batok
Terdengar sederhana, tapi versi Bali punya keunikan tersendiri: sering disajikan dengan sedikit perasan jeruk nipis dan gula aren, bukan gula pasir biasa. Kombinasi ini membuat rasanya lebih kompleks, tidak hanya manis tapi juga sedikit asam dan smoky dari gula arennya. Di sepanjang pantai selatan seperti Kuta atau Nusa Dua, kelapa muda utuh dengan sedotan bambu masih jadi pemandangan umum.
5. Arak Bali, Warisan yang Kini Naik Kelas
Dulu arak Bali identik dengan minuman keras rumahan yang dijual asal-asalan. Sekarang, banyak produsen lokal yang mengangkat kembali proses distilasinya secara lebih higienis dan terstandar, bahkan beberapa sudah diekspor. Arak Bali dibuat dari fermentasi air nira kelapa atau aren yang disuling tradisional. Rasanya tajam dengan aroma khas yang sulit ditiru minuman fermentasi lain. Kalau tertarik mencoba, pilih produk arak yang sudah berizin BPOM untuk memastikan kualitas dan keamanannya.
6. Brem Bali, si Manis Beralkohol Ringan
Berbeda dari arak yang keras, brem terbuat dari fermentasi beras ketan hitam atau putih dengan kadar alkohol yang jauh lebih rendah. Rasanya manis-asam, mirip anggur beras, dan sering disajikan dalam upacara adat sebagai pelengkap sesajen. Brem kemasan botol kini banyak dijual di toko oleh oleh khas Bali, jadi bisa juga dibawa pulang sebagai buah tangan yang beda dari biasanya.
baca juga Barang Wajib Dibeli Saat Liburan ke Bali, Jangan Lupa Checklist ini
7. Es Campur Bali dengan Sirup Pandan Khas
Versi Bali dari es campur biasanya memakai sirup pandan homemade, bukan sirup kemasan pabrik. Isiannya pun sering menyesuaikan bahan lokal: cincau hitam, tape ketan, kelapa muda, dan kadang ditambah kolang-kaling. Warung-warung kecil di sekitar Denpasar dan Gianyar masih mempertahankan resep turun-temurun untuk sirupnya, jadi rasanya bisa berbeda cukup jauh dari satu warung ke warung lain.
8. Wedang Serai Bali dengan Sentuhan Rempah Lokal
Minuman hangat ini biasa disajikan saat cuaca sedang tidak menentu, terutama di area dataran tinggi seperti Bedugul yang suhunya lebih dingin dibanding pesisir. Serai direbus bersama jahe, kadang ditambah daun pandan dan sedikit madu. Sederhana, tapi efektif untuk menghangatkan badan setelah seharian jalan-jalan di kawasan kebun raya atau danau.
Mencoba minuman-minuman di atas rasanya kurang lengkap tanpa camilan pendamping yang juga otentik. Salah satu yang paling mudah ditemukan dan cocok dipadukan dengan kopi Kintamani atau wedang serai hangat adalah pie susu. Teksturnya renyah di luar, lembut dan creamy di dalam, dengan rasa susu yang tidak berlebihan manis.
Kalau sedang berada di kawasan Kerobokan Kaja, Pie Susu Dhian bisa jadi pilihan untuk untuk cemilan di rumah atau dibawa pulang sebagai oleh oleh khas Bali untuk keluarga atau kolega di rumah. Banyak wisatawan sengaja mampir sebelum jadwal penerbangan karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari beberapa titik wisata di Denpasar.
